GURUKU KRAN BELAJAR YANG SIAP MENETESKAN AIR ILMUNYA.

  Tantangan harike- 2

 GURU DAN PENULIS IBARAT KRAN BELAJAR YANG SIAP MENETESKANAIR ILMUNYA SEPANJANG  HAYAT


 

Alhamdulillah pagi ini Sabtu,11 Juni 2022 nan damai,  ada rasa kebahagiaan yang tercermin dari hati kami sekeluarga . ini terbaca dari sikap dan laku dari bapak dan kakanya yang suka canda ria pada si bungsu di rumah ini karena hari ini perpisahan Perpisahan PAUD Cerdas Geria tahun pelajaran 2021 /2022. Acara wisuda ini berlokasi di gedung Nasional  Sumba Timur. Semua peserta didik dan para pendidik diwajibkan memakai pakaian adat dari daerah mana saja yang disukai . dari jawa menggunakan  pakian adat Jawa, dari Sumba menggunakan kain pahikung, begitu juga dari daerah –daerah lainnya  seperti Bali,Lombok, Flotinm, Ende, Sabu, Rote, intinya memakai busana daerah sesuai dengan daearahnya masing-masing 

.Rupanya para pengelola  Paud Cerdas Ceria ingin memeriahkan acara ini denga mengambil tema “ Bhineka Tunggal Ika ”meskipun kita datang dari suku, bahasa , adat, dan budaya yang berbeda-beda namun tetap satu  dalam Dinul Islam suci. Untuk itu kita harus bersyukur pada Allah yang maha Rahman karena telah menganugerahkan Bahasa Indonesia sebagai pemersatu bangsa dari beragam adat, suku,dan terutama  bahasa daerah, betapa tidak coba direnungkan kita tidak bisa berkomunikasi dengan lancer tanpa ada bahasa pemersatu bangsa yakni bahasa Indonesia. 

Alhamdulillah. Ketika kami memasuki  gedung tersebut kami disambut dengan hangat oleh ustadzah dengan senyuman  lembut dan manis dalam balutan kain adat. Selama dua anakku yang pernah sekolah di PAUD tersebut, tak pernah kudengar ucapan kasar  yang terlontar karenah marah dengan kelakuan anak-anak yang nakal. Ternyata kiat mereka adalah anak amak itu adalah amamah Allah yang harus dididik dengan hati. Meskipun tidak ada yang ungkap tapi itu bisa terbaca dari sikapnya yang lembut. Gambaran sikap dari suri tauladan rasulullah baik dari segi tutur kata, sikap, dan perbuataya terscermin dari para pendidiknya. 

Hal dasar yang terbaca dari sana adalah para pendidik selalu menanamkan akhlah terpuji di awal peremuan dengan peserta didiknya kemudian dilakoni dalam kebiasaan sehari-harinya. Contoh sederhana . mereka mengajari anaknya untuk menghafal hadits yang artinya: “janganlah engkau marah niscaya surge bagimu”.hadits itulah yang kemudian dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini yang memikat hati anak untuk tetap dan terus belajar bersama ustadzahnya. 

Setelah berada di dalam gedung terlihat semua anak-anak sudah berjejer dalam barisan yang rapi dalam tubuh mungil dan imut berbalut  baju badat dari berbagai daerah. Seakan mewakili duta-duta  dari daerah masing-masing. Mereka berderet seolah sebuah bangunan yang tersusun kokoh. Acara dibuka dengan tarian salawat kepada Rasulullh persembahan dari kelas B.  Dilanjutkan dengan  bacaan ayat –ayat pendek  dan doa- doa yang diamalkan dalam keseharianya hasil dari belajar selama  ini. 

  Betapa bangga dan bahagianya terlihat dari raut orang tua dan wali murid menyaksikan anak sekecil itu sudah bisa shalat dan sanggup mndoakan  kedua orang tuanya. Ini karena dididik denga hati bagi para pendididk bahwa anak-anak adalah asset sebagai ladang pahalanya. Contoh sederhana jika surah Al-Fatihah diajarkan kepada seorang anak yang bakal membacanya berkali-kali di dalam shalat maka berapa banyak pahala yang guru dapati dari anak tersebut seumur hidupanya. Itu baru satu anak bayangkan berapa banyak anak yang diajar setiap tahunnya. 

Subhanallah… menjadi guru karena panggilan hati untuk tetap ikhlas bagaikan pelita dalam kegelapan malam pekat. Ibarat  embun penyejuk kala dahaga menyapa, ia bagaikan sekuntum melatih lambing kasih nan putih. Jasa-jasanya tak akan padam walau dirinya sudah ada di dalam bumi. Karena ketika masih ada di punggung bumi ini beliau tetap menaburkan benih-benih kebaikan yang berkelas sebagai bekalnya di akhirat. kelak untuk mempertanggungjawabkan semua amalanya. 

Dalam sambutan mewakili dewan pendididkan beliau sangat terkesan dengan acara tersebut. Bahwa PAUD adalah usia emas dalam meletakkan dasar pendididkan kita. Jika kita salah dalam meletakannya maka selanjutnya akan goyang tanpa pondasi yang kokoh. Semoga yang diwisuda hari ini menjadi pemimpin di masa yang akan datang dengan bekal ilmu dan iman yang kokoh. Karena  ilmu kita bertemu dan lantaran ilmu juga kita akan berpiasah hari ini. 

Menyusul pesan dan kesan dari kepala PAUD Cerdas Ceria. Sungguh beliau pribabi yang mulia. Betapa tidak, sebenarnya beliau adalah karyawan di BRI yang tentunya untuk ukuran duniawi sangat menjajikan maka tak ayal banyak orang yang merebut kedudukan menjadi kasir di BRI. Namun karena panggilan hati dan keimanan yang teguh dan istiqomah maka beliau rela lepas dari kasir dan siap menjadi guru sekitar 5 Stahun yang lalu. 

Ketika mendaftar anakku yang keempat saya berjumpa ustazah kusempat kaget saja karena biasanya beliau siap melayani kami di kasir 3 BRI cabang Waingapu. Melihat reaksiku kaget maka ustazah tanpa panjang kata  beliau berbisik, “ini adalah pilihan karena panggilan hati.” Ada juga sahabat guru sejak kami bersama di TK Pembina Waingapu beliau tadinya jadi guru kelas dan saya guru Agama namun panggilan hati juga beliau menjadi kasir di Bank NTT. “Innamal a’malu binniat” segala sesuatu itu dimulai dari niat yang ikhlas dan dia menjalaninya dengan senang hati, karena Allah SWT. 

Alhamdulillah  dalam sambutanya sanagat  menyentuh kalbu. Beliau meminta dan mendoakan peserta didik agar tetap terus mengamalkan ilmunya  hingga tumbuh menjadi pribadi yang cerdas ceria,  sesuai nama PAUDnya di bawa asuhan yayasan Bina  Insan Rabani yang ketunya adalah Bapak Mustamal,S.Pd selaku  kepala madrasah MTsN Sumba Timur tempat kumengabdi sejak berdiri hingga kini, Alhamdulilh. Acara ditutup dengan doa dipimpin oleh imam masjid  Kampung Bugis. 

Dilanjutkan dengan tarian kreasi baru anak -anak  kelas C dengan dirigi musik dan lagu dari tanah tumpah darahku yaitu Dende reo-reo Adonara doan kae. Dengan maknanya adalah sedih hati ini karena Pulau Adonara sudah jauh. Ingin rasanya ku menyunting dirimu namun apalah daya  terhalang oleh adat dan budaya yang berbeda. Kusangat menghayati lagu ini karena memang punya pengalaman yang sangat pahit untuk diterima .  sudah tiga kali hendak dilamar namun terpaksa tunda karena adat dan tradisi yang berbeda. Namun tetap berpikir positif. Jika gagal berarti dia bukan jodoh terbaik buatku. Yah jadi curhat nii yee. Acara diakhiri dengan foto bersama guru dan keluarga tercinta.  

Inilah tantangan hari kedua namun lelah dalam acara dan sibuk olah nilai siswa  maka baru hari ini bisa rampung tulisannya. Harap maklum, kesibukan yang sangat menyita waktu dan tenaga. “Teruslah menulis dan mulailah dari yang alami maka otomatis dapat menulis yang ilmiah”, pesan akhir Om jay seusai dikukuhkan menjadi doktor. Sukses buat sang guru bloger Indonesia. Salam Literasi. 


Waingapu ,13 juni 2022.

 

 

 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

AMALAN RAMADHAN

TEKS BERITA : PEMBUKAAN KKG DAN MGMP DI KABUPATEN SUMBA TIMUR